
Ketua Umum PP KAMMI, Ahmad Jundi Khalifatullah, menilai narasi tersebut muncul di tengah berbagai langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Ia berpandangan bahwa masyarakat harus melihat perkembangan ekonomi Indonesia secara utuh dan tidak hanya berfokus pada sentimen negatif yang berkembang di ruang publik.
“Isu ‘Indonesia Sell’ itu narasi usang yang diputarbalikkan. Faktanya, kebijakan ekonomi kita saat ini mulai dari hilirisasi, penguatan energi domestik, hingga reformasi fiskal untuk mencapai target pertumbuhan tinggi justru membuat agen-agen ekonomi asing cemas karena mereka tidak bisa lagi mendikte Indonesia,” kata Ahmad Jundi Khalifatullah dalam keterangannya di Jakarta.
Masyarakat Diminta Tidak Terprovokasi dan Menghindari Tindakan Anarkis
KAMMI menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan memberikan kritik terhadap kebijakan publik. Namun organisasi mahasiswa tersebut mengingatkan bahwa perbedaan pandangan tidak boleh berkembang menjadi tindakan yang bersifat destruktif atau anarkis.
Menurut Ahmad Jundi, kondisi global yang saat ini masih dipenuhi ketidakpastian justru membutuhkan suasana nasional yang kondusif. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah terpancing oleh narasi yang berpotensi menimbulkan kepanikan atau memperkeruh situasi sosial.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh analisis ekonomi pesimistis yang sengaja diproduksi oleh lembaga pemikir asing,” ujarnya.
KAMMI menilai bahwa stabilitas sosial dan politik merupakan modal penting agar Indonesia dapat menjaga pertumbuhan ekonomi dan melanjutkan berbagai agenda pembangunan nasional.
KAMMI Soroti Dugaan Kepentingan Asing di Balik Narasi “Sell Indonesia”
Dalam keterangannya, Ahmad Jundi juga menyinggung adanya dugaan keterkaitan antara berkembangnya narasi “Sell Indonesia” dengan kepentingan pihak asing yang merasa terganggu oleh kebijakan ekonomi Indonesia yang semakin mandiri.
Menurutnya, sejumlah kebijakan pemerintah yang berorientasi pada penguatan ekonomi domestik dinilai telah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap jaringan ekonomi global tertentu.
“Kebijakan ekonomi RI yang kian mandiri, seperti optimalisasi sumber daya dalam negeri dan pengalihan ketergantungan dari pasar Barat ke kemitraan strategis yang setara, dinilai menjadi ancaman nyata bagi stabilitas bisnis para agen asing tersebut,” ujar Ahmad Jundi.
Ia juga menyebut bahwa terdapat indikasi kekhawatiran dari sejumlah jejaring bisnis dan kepentingan geopolitik luar negeri terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia saat ini. Meski demikian, KAMMI menekankan bahwa masyarakat perlu menyikapi persoalan tersebut secara dewasa dan tidak terjebak dalam provokasi yang dapat merugikan bangsa sendiri.
Hilirisasi dan Penguatan Ekonomi Domestik Dinilai Berada di Jalur yang Tepat
KAMMI menilai berbagai kebijakan ekonomi yang saat ini dijalankan pemerintah menunjukkan arah yang semakin kuat dalam membangun kedaulatan ekonomi nasional. Program hilirisasi industri, penguatan sektor energi domestik, dan reformasi fiskal dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi Indonesia.
Menurut Ahmad Jundi, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam perekonomian global sekaligus memastikan manfaat sumber daya nasional lebih besar dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
“Sudah saatnya Indonesia berdiri tegak di kaki sendiri. Jika agen-agen asing itu cemas, artinya kebijakan ekonomi kita sudah berada di jalur yang benar untuk merebut kembali kedaulatan bangsa,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan KAMMI bahwa penguatan sektor domestik merupakan langkah penting untuk meningkatkan daya tahan ekonomi nasional di tengah berbagai gejolak internasional.
Persatuan Nasional Dinilai Lebih Penting dari Kepanikan Pasar
KAMMI berpandangan bahwa masyarakat tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap berbagai narasi yang berkembang mengenai kondisi ekonomi Indonesia. Organisasi tersebut menilai bahwa fundamental ekonomi nasional tetap memiliki potensi yang kuat apabila didukung oleh stabilitas politik, kepercayaan publik, dan semangat persatuan nasional.
Dalam konteks tersebut, KAMMI mengajak seluruh elemen bangsa untuk lebih mengedepankan optimisme, gotong royong, dan solidaritas sosial dibandingkan memperbesar perbedaan yang dapat memicu konflik di tengah masyarakat.
Menurut organisasi tersebut, tantangan global yang semakin kompleks hanya dapat dihadapi melalui kolaborasi dan persatuan nasional yang kuat.
KAMMI: Indonesia Harus Tetap Percaya Diri Menghadapi Tantangan Global
Menutup pernyataannya, Ahmad Jundi mengajak masyarakat untuk tetap percaya pada kemampuan bangsa sendiri dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik dunia.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya, pasar domestik yang besar, serta fondasi ekonomi yang cukup kuat untuk terus berkembang apabila seluruh elemen bangsa mampu menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang melemahkan kepercayaan terhadap negara.
“Masyarakat harus tetap tenang, kritis, dan tidak mudah diprovokasi. Yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah persatuan, optimisme, dan keyakinan bahwa bangsa ini mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri,” tegas Ahmad Jundi.
Bagi KAMMI, menjaga stabilitas nasional dan menolak tindakan anarkis merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam memastikan Indonesia tetap mampu melanjutkan pembangunan dan menghadapi dinamika global dengan percaya diri.








